Deng Ile: Bloodctober: Menunggu titah Baginda Senior

Juli 22, 2015

Bloodctober: Menunggu titah Baginda Senior

Bagian keenam
Seorang kawan dari pinggiran kota sudah menyiapkan kamar untukku, dari sana jelas sudah aman dari zona perang. Begitu menurutnya, tapi saya jelas tak bisa mengurung diri. Minimal saya juga harus bergerak dan harus ada informasi keadaan yang bisa masuk ke telingaku setiap waktu. Saya pun punya strategi sendiri.
Keadaan rumah semakin semrawut dijejal anak muda, orang yang tidak saya ketahui siapa mereka, tak berhenti berdatangan ke kediaman kami. Mereka datang dengan tangan hampa, tapi sepertinya menawarkan harapan kepada kami, Seolah berkata "Setidaknya kita siap mencabut parang untuk kalian".

Pagi yang sedikit basah, udaranya tak sesegar di kampung tapi hawa dingin dari embun pagi masih sempat menyekat kedua lubang hidung. Sekitar pukul 06 pagi lewat tamu-tamu sudah duduk berkelompok disepanjang lorong dan pekarangan depan rumah. Mereka menunggu kabar dari beberapa orang penting yang masih serius bercakap diruang tamu, menunggu putusan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Meski sebenanrnya tidak begitu susah menebak isi hati mereka, mereka sudah siap menyerang balik. Tepatnya membalas kejadian barusan, mereka sudah tidak sabar.

Saya ingat ada ransum yang sempat ku kepak di ransel daki ku tadi malam, beberapa bungkus kopi sachet dan rokok. Merokokki, Kataku sambil menjulurkan tangan menawar rokok kepada beberapa tamu di depan rumah. Teman yang sempat terkena sabetan parang sudah ditangani didalam meski bukan oleh orang medis mengingat waktu masih terlalu pagi, Puskesmas belum buka katanya.

Seolah tenggelam dikerumunan tetamu saya mencoba mencari-cari informasi dari beberapa orang yang cukup tua dari saya. Masih belum saya ketahui kenapa rumah kami harus diserang sekelompok orang yang tidak kami kenal. Pun saya merasa tidak mempunyai musuh lantas kenapa harus ditimpa naas seperti ini.

Seorang kawan bernama Bare' menyempatkan waktunya bercerita panjang lebar, ternyata ia punya pandangan sendiri soal kasus semacam ini. Begini ceng' ..itu biasanya kalo kasus begini nda bisa langsung ki melapor, apalagi belum ditau betul pi apa inti permasalahannya. biasa itu ada oknum SILIPO' sengaja nakasi rusuh antar kelompok. Nanti kan ada dana pengamanan ceng', Apalagi kalo maumi dikasi damai kan kalo dia yang uruski dapat juga racci-racci dari atasanna. Makanya percuma ji melapor, Kasi habis uang saja. Iya mungkin bisaji natangkap beberapa pelakuna tapi itu nda menjamin bisaki aman. Na kita mauta ini kasus bisa selesai, tidak saling serang lagi. Caranya satuji, kasi minta maaf lawan ta'. Itu yang sempat saya tangkap dari cerita panjang dari kawan satu ini. yah memang masuk akal sih, pikirku. Kalau saya mau aman berkeliaran, yah sebaiknya saya selesaikan masalah ini dengan cara kekeluargaan.

De!! Dena coco'!! Nalleangi siri ta ko makkuni!.. Suara keras terdengar riuh dari dalam ruang tamu. Entah apa yang mereka bicarakan tapi sepertinya ia sedang marah dan tidak terima. Kita yang duduk dipekarangan rumah hanya serentak melihat kearah ruang tamu dan tak ada yang berani masuk. Sepertinya didalam suasananya sedang tegang namun tak lama setelah kami yang diluar rumah dikagetkan suara tadi, seorang senior keluar lalu berkata Parelluni kapang ri jakkai gemme'e, Nasaba sisala'-sala' ni sedding. Yang artinya sudah saatnya kita menyisir rambut, karena sepertinya sudah terlalu berantakan. Entah apa yang ia maksud, jelas ini kalimat bermajas khas bugis yang memiliki arti lain.

Lepas kata demi kata keluar dari mulut senior ini kemudian disambut para tamu dengan bersegera berdiri. Beranjak dari tempat duduk lalu berkumpul diruang tamu. Saya sempat ikut kedalam namun karena kakak memanggilku ke kamar lantas kutinggal saja mereka. Attama no di Kamara'e, Duanni anrimu. Kata kakak dalam bahasa bugis yang menyuruhku menemani adik di kamar.

Tak lama saya didalam desingan motor bersambut didepan rumah. Suara riuh dari mesinnya kemudian menjauhi kediaman kami, mungkin sekitar 30 motor yang keluar seketika membuat rumah ini kembali sedikit hening. Saya sempat bertanya kepada beberapa orang yang masih tinggal dirumah, kemana mereka pergi? Namun tak memuaskan jawabannya. Katanya "Menyisir". Apa itu?

-bersambung-
#SebulanNgeblog
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post a Comment