Deng Ile: Bloodctober: Susun Strategi Perang

Juli 20, 2015

Bloodctober: Susun Strategi Perang

Bagian kelima
Dari dalam kamar seluas 3 x 4 Meter ini kami menunggu pemangsa yang seketika siap menerjang. Ninja-ninja yang tidak kami ketahui dari mana asalnya. Tanganku masih keras memegangi sebilah parang sementara mereka sudah ada di pekarangan rumah.

Sekitar dua menit kami habiskan menunggu namun tak ada yang sempat masuk pun mendobrak pintu yang sudah kami jejal rapat. Bersambut suara ribut dari mesin motor kemudian terdengar dipekarangan. Dari balik jendela kakakku melepas tatap keluar "Kanda Fulan!!!" seorang senior datang, sepertiya ia terburu-buru. Masih belum baik benar bidak sarungnya, jaket tebal dan tak beralas kaki. Sepertinya ia tahu kondisi tegang yang baru saja terjadi disini dan dengan niatan membantu kami sesegera mungkin ia datang.

Ceng..Ceng..Teriak Senior dipekarangan rumah memanggil kami, "Ceng" sapaan akrab yang sering kami pakai. Kakak sepertinya sudah surut tegangnya, dibukanya pintu meski tangan kanannya belum juga lepas dari kepala Badik miliknya. Dari belakang kakakku kulihat dua anak panah "busur" menjuntai melambai terpaut di kaos hitam miliknya. Mungkin waktu ia memelukku tadi dua anak panah ini meluncur ke punggungnya, syukur tidak sempat menembus kulit, hanya saja kaos hitamnya harus Robek.

Kakak sudah diluar berbincang serius dengan senior tadi, samar-samar kudengar senior ini berucap "Pas tadi didepanka kulihat semua lari menyebrang, Sudah pergimi semua tapi saya tau ji siapa-siapa orangnya." sementara itu saya masih menjaga pintu kamar yang didalamnya ada adik dan temanku.

Untungnya ada sosial media, dengan cepat berita penyerangan menyebar kemana-mana dan senior inilah yang pertama datang melihat kami. Lokasi sudah aman terkendali pun lorong sekitar 20 meter sudah sepi dari pasukan hitam. Seperti biasanya kejadian seperti ini harus diketahui oleh beberapa orang yang kami anggap penting. Telepon demi telepon dilayangkan kakak ke beberapa orang dan tak cukup 10 menit sudah ada sekitar 50 orang yang tak kukenal lagi berdatangan kemari.

Perbincangan serius terjadi di ruang tamu, sesak oleh asap rokok dan baru kali ini kami membiarkan tetamu memakai alas kakinya masuk kerumah. Saya masih menenangkan diri bersama teman dan adikku dikamar. Tegukan demi tegukan air bersambut melewati kerongkongan yang sudah kering karena teriakan.

Tak lama setelahnya kakak mendatangi kami, Telepon genggam miliknya masih ditempelkan ditelinga. Kali ini ayah dikampung yang menanyakan kabar dan sedikit amarah sepertinya melecut ditelepon karena kejadian barusan. Kakak yang sudah bercerita panjang lebar dengan baik-baik meminta pandangan ayah dan sebuah keputusan sepertinya sudah bulat "K e d o k o" Katanya.  Dengan jelas ayah memerintahkan untuk menyelesaikan masalah ini dengan cepat.

Kakak kembali ke keriuhan tetamu di ruang depan, menjelaskan keputusan ayah yang baru saja ia dapat di telepon.

Ya benar, kami tidak polisikan kasus ini. Keputusan yang sampai sekarang pun belum saya mengerti betul. Ayah meminta agar ini masalah selesai secepatnya, strategi sudah tersusun apik dan langkah pertama yang harus kami tempuh adalah diasingkan. Seorang senior berusaha menjelaskan kepada saya untuk tinggal sementara didaerah pinggiran kota Makassar dan adikku ikut bersama beberapa teman gadis diperumahan yang tidak jauh dari kampus. Sementara kakak harus ikut bersama beberapa orang yang tidak saya kenal satu persatu tadi.

Saya jelas menolak, siapa yang ingin tinggal dipinggiran kota untuk sementara waktu. Sementara waktu yang tidak saya ketahui kapan berakhirnya. Berusaha kutawarkan diri untuk ikut bersama mereka, semakin keras kutawari semakin keras juga penolakan yang ia berikan ke saya. Sampai akhirnya senior satu ini menjelaskan sebuah aturan kuno yang tidak memperbolehkan saudara sekandung turun lapangan bersamaan, akhirnya sampai disitu tak ada lagi dayaku untuk menawar.

Entah apa yang mereka rencanakan tapi sepertinya akan ada perpanjangan masalah. Bukan, Ini penyelesaian. Katanya dengan tegas.

Seorang kawan dari pinggiran kota sudah menyiapkan kamar untukku, dari sana jelas sudah aman dari zona perang. Begitu menurutnya, tapi saya jelas tak bisa mengurung diri. Minimal saya juga harus bergerak dan harus ada informasi keadaan yang bisa masuk ke telingaku setiap waktu. Saya pun punya strategi sendiri.

-Bersambung-
#SebulanNgeblog


Baca juga :
Bloodctober: Pasukan Berjubah Hitam - Bagian pertama
Bloodctober: Darah dan Lintasan Kenangan - Bagian kedua
Bloodctober: Tamu dan Metafisika -Bagian ketiga
Bloodctober: Ihwal Penyerangan - Bagian keempat
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post a Comment