Deng Ile: Bloodctober: Darah dan Lintasan Kenangan

Juli 09, 2015

Bloodctober: Darah dan Lintasan Kenangan

Bagian Kedua
Ruang tamu rumahku sekarang sepertinya akan berubah menjadi arena pembantaian. Tiga orang ninja bersenjatakan parang panjang sudah siap mencincang-cincang kami yang belum baik perasaannya selepas tidur. Teriakan keras dari tiga pemuda ini sudah cukup membuat mata kami bertiga terbelalak. Mereka mengambil posisi masing-masing. Satu orang didepan ranjang besi, satu orang masuk terus kebelakang menuju kamar adikku dan satunya sudah sibuk menebaskan parangnya ke tenda tempat kakakku tertidur.

Dari dalam kamar belakang kudengar teriakan adik-adikku meminta pertolongan, kaca jendela kamar yang kudengar pecah berhamburan melipat gandakan rasa cemas berbalur ketakutan. Entah bagaimana keadaan adik-adikku didalam, Seorang Ninja yang berdiri tegap didepan ranjang membuat saya tidak mungkin meninggalkan tempat. Pis..Bangunko!! temanku yang masih terbaring kuteriaki lalu kutarik merapat ke dinding sementara bayangan ninja tadi sudah memulai aksi memporak-porandakan kelambu putih dimana saya dan temanku berada didalamnya.

Tebasan demi tebasan kekiri dan kekanan silih berganti lewat sekira sejengkal dari urat leherku. Saya  dan teman yang liputi kekalutan hanya bisa merapat mepet kedinding. Allahu akbar satu-satunya kata yang kuulang-ulangi bersamaan dengan ritme tebasan parang yang menghujani kami dari luar kelambu.

Mungkin kakakku sudah mati, sedari tadi tak berhenti tebasan juga melayang kearah tendanya. Tak lagi berbentuk tenda yang setengah lingkaran. Kerangkanya jatuh merapat kelantai, tampak seperti selimut kusam sementara kakakku masih ada didalamnya. Masih asyik ditebas oleh si Ninja.

Saya pasrah dengan keadaan jika memang harus mati disini. Suaraku sudah habis berteriak allahu akbar, tak ada lagi tenaga yang kusimpan selepas kaget dahsyat yang melanda. Dari sebelah sepintas kulihat darah sudah berceceran menghiasi alas tidurku.

Dengan sisa tenaga yang masih ada kugeserkan badanku perlahan demi perlahan merapati badan temanku. Kubuat ia semakin kesudut dinding, tak bisa saya bergerak leluasa karena ninja yang didepanku masih membabi-butakan tebasannya kearah kami.

Lamanya sekira-kira memenuhi bak mandi ukuran 1x1 meter dengar air PAM. Itulah bentang waktu adegan ini berlangsung. Tebasan parang, Teriakan tolong, Allahu akbar hanya itu yang berulang-ulang.

Di ranjang tua dari besi yang tak ada kasur seperti seharusnya. Berbeda dengan ranjang tempatku berbaring dikampung halaman. Yang ini Besinya berkarat seperti rongsokan yang tertinggal lama ditempat sampah, Lima papan melintas menutupi rangka tengahnya, lalu alas tidur berbahan gabus plastik berwarna biru yang kubeli 2 tahun lalu. Shitt!! Kupikir saya akan mati ditempat yang empuk dan bersih, nyatanya diatas ranjang usang inilah saya sekarang. Setidaknya selain sebagai tempat tidur disini diatas ranjang tua inilah kami juga sering menyajikan hidangan makan malam bersama teman, keluarga dan pacar yang acap kali terganti. Meski ada tapi kenangannya terlalu pendek untuk dijadikan cerita pengantar kematian.

Imam syafi'i pernah berkata : Hanya didalam kepayahan berada indahnya hidup. Betul, hanya dimasa-masa seperti ini ingatan-ingatan indah mengalir deras mengisi benak. Beberapa waktu lalu masih sempat kulihat seorang wanita tertidur pulas disini lalu kutinggal pergi mencari keriuhan dikampus yang sudah ku selesaikan. Ada juga tentang bagaimana saya dan saudara-saudaraku membersihkan ruangan ini lalu menjadikannya tempat ibadah magrib selepas berbuka. Ohh tuhan saya benar-benar masih ingin merasakannya kembali.

Entah kenapa dan apa yang membuatku melintasi pintasan kenangan-kenangan ini. Beginikah rasanya bila mati sudah dekat? Apa saya kira-kira sudah pantas bertemu pencipta? Ahh mungkin tuhan salah panggil. Hatiku mencoba menenangkan ketakutan yang tiada henti menggerogotiku. Sementara itu saya tersadar kibasan-kibasan parang belum juga terhenti meliuk dari kanan kekiri sesekali dari atas lalu menghujan kebawah.

Saya masih sempat mengingat sebilah parang yang kusisipkan disamping lemari disudut kamarku. Parang yang dibawa kakakku ke Makassar hanya dengan niatan mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan. Parang yang berteman debu karena tak pernah dikeluarkan dari sarungnya. Apa daya kamarku bukanlah kamarku. Sekarang seorang tamu didalamnya mengunci rapat-rapat pintunya seolah tak ada kejadian diluar sini. Atau mungkin dia . . .

--bersambung--

#SebulanNgeblog


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post a Comment