Deng Ile: Puisi Tentang Musibah di Tanahku Bugis

Agustus 01, 2017

Puisi Tentang Musibah di Tanahku Bugis


Tentang Musibah di Tanahku Bugis

Balada keterasingan manusia-manusia Bugis di tanah Bugis
Tentang ana’ madimunri yang takkalupa

Tentang ana’ madimunri yang mappakasiri’-siri’
Tentang tomatoa yang tak mappaseng lagi

To matoa yang malu majjappi-jappi karena cucu yang semakin arogan dengan baratnya
To matoa yang enggan mewariskan badik kepada cucu yang tak lagi peduli dengan Bugisnya

Tentang gecong, toasi, raja, malela dan sapukala kini dibisukan oleh mereka yang tengah menelan malu cucunya

Tentang sara’ na siri’ yang bukan lagi terkikis tapi terbuang
Ini tak se-Bugis yang kudengar, yang kubaca pada kisah kesatria tanah Bugis
Dari cerita nenek moyang saat kecilku, Bugis yang mempesona dengan tarian paddupanya

Bugis yang menawan dengan ade’ nya, mappatabe’ dan santun
Bugis yang tak sipakatau lagi, tapi sipakatai
Tak sipakainge’ lagi tapi sipakasingedeceng mallalloe
Tak lagi sipakalebbi tapi sipakalessi

Ugi’, Ogi’ na Hugi serumpun yang saling mencampakkan di tanah gemerlap lampu modernitas
Ini tak se-Bugis cerita lama pada lontaraq galigo dan kitab-kitab to riolo
Siri’ na pesse disalah artikan berujung pada kematian yang hina

Kawali na Kahali conga’ massappa bali, seolah dia tenri bali tenri ewa
Tradisi mappakaraja tellu cappa’ diabaikan di tengah Bugis yang sekarat
Sigajang laleng lipa’ hanya sebatas panggung sandiwara

Massuro baca dicibir putra putri Bugis madimunrie
Gadis Bugis malu dibalut lipa’ sabbe
rok mini lebih menarik dari baju bodo
Pemuda Bugis malu memakai jas tutup dan songko’ guru

Kata mereka Mattappi’ bessi ketinggalan jaman
Beppa Onde-onde, sumpi tana, kopi’ langi’, doko’-doko’ membuat alergi tatapan mereka
Aksara lontaraq berdebu disudut-sudut kamar mereka, kamus berbahasa asing justru dirawat dgn baik
Kemana Bugisku?

Elong, Osong dan manca’ terasing
Ma’raga-raga, ma'pinceng, ma'lanca, kini hilang
Bugisku sekarat, Bugisku Nampak pucat di pembaringan
Kita lupa tentang kebesaran Bugis
I la galigo tak semenarik mahabarata

Kisah La sinrang, Arung palakka,Karaeng Siang, La maddukelleng, La Tunampare, La Tenribali, Puang Lompo, La Peso’, karaeng bodo-bodoe, terkalahkan kisah pendekar-pendekar jawa, yunani, romawi

Dari tanah Alekale Riaja Bulu dari ata na puang kupandangi Bugisku yang sekarat
Panrita kitta’ yang tak lagi mampu menyatukan perbedaan
Sianre bale bisa jadi terulang lagi.
Cerita batu tujue, benteng lompoe, tampung pekke’e, batu goroe, tanah bangkalae, tak dikenal,
Tegai, kegai, digai Ugi’ku, ogi’ku, hugi’ku ???

Aku sendiri masih Bugis, mengenang Bugis di lintas peradaban buta
Aku masih sangat bangga di panggil Bugis, meski sedikit menelan malu
Dan aku tidak sendiri membanggakan Bugis, masih ada puluhan dan ratusan darah Bugis di belahan tanah merah putih yang setia dengan Bugis

Bugis kami yang massala mate…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post a Comment