Deng Ile: Tentang Raja Bone yang memiliki banyak Keturunan

Juli 07, 2015

Tentang Raja Bone yang memiliki banyak Keturunan



Monumen Arung Palakka - Raja Bone XVI di kota Watampone Kab. Bone

Geli, ketika saya membuka beberapa website yang membeberkan silsilah Raja Bone. Bukan karena isinya namun Komentarnya. Kolom komentar dijejali pengakuan-pengakuan bahwa mereka Keturunan Raja. Saya bukannya tak percaya atau menganggapnya konyol tapi Apa benar mereka keturunan Raja Bone yang asal-usulnya pun tak jelas? Seketika saya tersenyum kecut.

Beberapa screenshot yang sempat saya kumpulkan dari berbagai sumber.
Setahuku keturunan terakhir Raja Bone yang masih eksis dan diakui kebenarannya tinggal Andi Baso Bone "Puang One" Kepala Museum Lapawawoi sekarang. Keturunan langsung Alm. Andi Mappasissi Petta Arungpone "Ana-Pattola/yang berhak menggantikan Raja". Cukup ke Museum Lapawawoi untuk menemuinya. Perkara Akkarungeng[1] Bugis memang sangat luas dan ribet, bergelar Andi belum tentu bisa menjadi acuan bahwa ia keturunan Raja. Baso[6] pun ketika memiliki anak belum tentu bisa serta merta meletakkan Kata Baso juga didepan nama anaknya, karena gelar Akkarungeng bukan cuma dilihat dari garis darah. Lagian apa kalian tidak malu menyandang gelar Baso sementara kelakuan sekadar baco-baco? Lebih baik baco-baco[6] yang berkelakuan Baso. Kelesss!

Payung yang hilang ditanah Panyula, bukti nyata yang bisa diambil hikmahnya jika ingin tahu kenapa bergaris darah bangsawan pun tak boleh serta-merta disebut Arung[3]. Alkisah, Raja Bone yang gemar memelihara ayam petarung kehilangan ayamnya. Setelah pencarian besar-besaran ditemukanlah sisa bulu Ayam kesayangan Raja di Panyula. Oleh raja, Panyula ri paoppang (Dibalik) sehingga semua Arung yang saat itu menetap disana harus melepas Akkarungeng[1] mereka dan tak lagi ada hak menjadikan anak mereka Arung. Dari situ bisa disimpulkan bahwa, Menjunjung nilai-nilai Akkarungeng-lah yang lebih penting untuk bisa dianggap Arung selain bergaris darah Arung.

Atau "Arung ri Opo". Sebuah keadaan yang membuat seorang arung tak bisa lagi memberi gelar kebangsawanan kepada anak cucunya. Namun berbeda dengan cerita diatas, Ri Opo setidaknya karena pilihan sang Arung sendiri atau karena sebab lain yang membuat sang Arung melepas gelarnya. Jelas hal seperti ini akan otomatis membuat anak-cucu dari Arung tersebut juga tak bisa memasang Gelar kebangsawanannya. Tak sedikit Arung yang memilih jalan ini, pada saat Bone diduduki Belanda misalnya. Banyak pembesar kerajaan yang menolak diperintah orang asing sehingga pergi menetap ke daerah lain dan melepas gelar kebangsanan Bugis yang ia miliki. Setidaknya memilih jalan Ri Opo bagi mereka masih lebih terhormat.

Waktu itu kira-kira saya masih seumuran dengan personel Cowboy Junior ketika ibu saya rajin-rajinnya mengisi cerita-cerita Heroik tanah Bone dikepalaku. Tak jarang nama aneh, istilah yang pelik untuk dimengerti, serta Paseng yang tiada habisnya menghiasi cerita-ceritanya. "Iyapa namate fata'e, matepi dua tellu tau massolla-sollae"[2] kata beliau. Saya yang hanya sesekali mendengar Bahasa Bugis kuno ini jelas susah mengerti apa yang beliau maksud. Kemudian ia lanjut menjelaskan sepotong kisah tentang La Bocca "Baso Cia Cau" singkatan yang diberikan raja Bone kepada seorang panglima perang yang tidak pernah berputus asa.

Sepertinya memang begitulah kami semua, Otak kami dijejali peristiwa heroik dimasa kecil termasuk persinggungan darah dengan sang pelaku sejarah tersebut. Tak tanggung-tanggung ibuku bahkan secara detail menyebutkan satu-persatu nama mereka. "Nene Cambali Besse Teko ripasiala Puang Lassongkeng napuana'i Baso Paddongi, Baso Mallongi, Baso Paddepungeng, Nenniya seddi makkunrai riaseng Besse Woja (sampai ke generasi terakhir)[5]". Kata ibu yang sedang menjelaskan silsilah keturunan Sulewatang Ri Ajang Bulu. Daerah Ajang Bulu adalah sebuah Kesultanan kecil yang masuk sebagai teritori yang dikuasai Bone, yaitu sekira-kira dari Ulaweng sampai sungai Walennae. Sedang pusat pemerintahannya ditempatkan disebuah gunung yang dipagari susunan batu "Benteng Lompoe", dulu kata ibu, Tak sembarang boleh masuk. Sebuah mitos yang sampai sekarang masih dipercaya "Tau Samaa"[7] atau yang bukan keturunan Arung tak boleh naik kesana sambil memakai payung atau pelindung kepala. Karena menurut cerita, mereka yang melanggar tak bisa kembali dengan utuh. Fungsi utama yang paling mencolok dari adanya pusat pemerintahan Sulewatang ini adalah penyelesaian perkara masyarakat sekitar, namun perlahan luntur karena Kerajaan Bone sendiri lebih memilih ikut konstitusi Indonesia dan secara langsung membuat Negri kecil yang menjadi kekuasaan Bone juga harus ikut menerima. Akhirnya daerah Ajang Bulu kemudian dipecah menjadi beberapa desa dan kecamatan.

Dilain waktu Puang Solong atau kami cucunya yang sering memanggilnya Papa' juga rajin menjelaskan hal seperti tadi. Selain tak bisa tenang untuk bekerja dikebun dan sawah miliknya,  masa tuanya dihabiskan untuk memberi petuah dan siraman napak tilas sejarah Bone ke Anak cucunya. Almarhum Puang Solong waktu itu sekira-kira umurnya 80an. Dengan gigi yang masih tersusun rapi serta tubuh yang masih kuat mencangkul membuatnya terkadang didatangi orang yang hanya untuk sekedar belajar Pake[7] atau rahasianya. Mungkin mereka pikir tak masuk akal diumur sepertinya masih kuat dan kelihatan segar.

Begitulah dahulu, namun karena keterbatasan otak jelas saya tak bisa mengingat semua. Mungkin semua yang berkomentar seperti itu dibanyak website punya kisah seperti saya. Otak mereka dijejali hal seperti tadi hingga memaksa diri mereka untuk merasa sebagai Keturunan Raja.

Manusia adalah mahluk yang sangat kompleks dan penuh differensiasi setiap individunya tapi bukan berarti mereka tak memiliki kesamaan. Pada hakikatnya kita memiliki kebutuhan dasar yang sama misalnya kebutuhan untuk diakui "Proof of Existence". Klaim terhadap siapa kita akan disungguh-sungguhkan hanya supaya orang lain bisa mengetahuinya. Pada kasus ini begitulah yang saya tangkap. Mereka yang telah dibuat merasa memiliki garis keturunan Raja ingin diakui keberadaannya. Fungsi normal Manusia masih berjalan di otak mereka.

Namun bagi saya, cara mereka menuju hal tadi kurang tepat. Hanya sekedar bilang saya bisa menulis tidak lantas kemudian akan membuat saya diakui bisa menulis oleh orang-orang. Butuh latihan menulis dulu, ikut kelas kepenulisan blogger Angingmammiri :) dan lain-lain sampai jika nanti ada yang bilang saya sudah bisa menulis barulah artinya saya bisa disebut "bisa menulis". Secara sederhana begitulah proses pengakuan yang pas menurut saya. Sama halnya Akkarungeng, meski anda anak dari Arung Matasa[4] manapun itu tidak akan lantas membuat anda akan diakui sebagai Arung. Tapi Mengamalkan nilai-nilai Akkarungeng dulu, memantaskan diri dulu sampai yang berhak membuat anda menjadi Baso[6] menjadikan anda Baso barulah anda bisa disebut Baso yang sebenar-benarnya.

Untuk saudara Bugis saya dari Bone, Soppeng, Wajo, Sinjai, Pinrang, Pangkep, Sidenreng, Maros, Bulukumba, Luwu, Kalimantan, Malaysia, Singapura, Afrika, China, Lithuania dan lain-lainnya semua. Semoga kalian sempat membaca tulisan yang masih sangat lemah nilai ini.

La tenri tatta Arung Palakka tidak memiliki keturunan meski telah beristri beberapa kali. Jadi tidak mungkin jika anda mengakui diri sebagai keturunan Petta Malampe'e Gemme'na ini. Pengganti beliau setelah mangkat adalah La Patau Matanna Tikka, Sepupu beliau.

Arung Palakka adalah gelar yang diberikan untuk semua Sulewatang yang pernah memimpin Tanah Palakka  (Kerajaan kecil yang terletak antara Pusat Kerajaan Bone dan Ajang Bulu). Jadi Arung Palakka itu banyak dan meskipun benar anda keturunan salah satu Arung Palakka belum tentu anda keturunan Raja Bone karena tidak semua Arung Palakka menjadi Raja Bone.

Betul jika anda Arung, Keturunan Raja, anda akan mendapat warisan yang sangat banyak sehingga sampai keturunan berapapun harta itu tidak akan habis. Harta yang pertama yaitu Payung Emas yang akan setia melindungi anda dari panas. Disusul Baju Emas yang pastinya akan melindungi kulit anda yang halus dan Senjata-senjata Pusaka yang sakti mandraguna. Payung Emas itu adalah Kehormatan yang akan anda terima jika mengamalkan Paseng "Petuah Bijak" dari leluhur kita, Baju Emas adalah Perlindungan yang diberikan setiap orang yang anda kasihi atas dasar Temmapasilaingeng[9], Senjata Pusaka yang sakti mandraguna adalah Kekuasaan yang akan orang berikan cuma-cuma kepada anda jika anda terlihat meyakinkan dan bisa dipercaya/ Menyelaraskan perkataan dan perbuatan baik. Sampai jika anda memilikinya andalah Arung yang sebenarnya.

Memiliki awalan Andi didepan nama tidak lantas membuat anda diakui sebagai Arung. Terminologi Andi baru muncul atau diakui sebagai gelar ketika Belanda mulai menancapkan kekuasaan di tanah Bugis. Andi adalah sebutan yang dilazimkan Belanda kepada orang dalam di Kerajaan. Sebelumnya Bone hanya mengenal Pattelareng "Gelar" seperti La "Arung Matasa[4] laki-laki", We "Arung Matasa Perempuan", Baso dan Besse.Sehingga tak sedikit orang yang menganggap Andi adalah Arung Ri Tado, atau Bangsawan yang rela diperintah oleh Negri Asing. Allahu a'lam, namun hal ini juga tidak boleh langsung membuat kita tidak mengakui Eksistensi Andi tersebut.

Tidaklah penting sebuah garis darah Keturunan Raja/ Arung tapi menjaga sikap dan tata laku Akkarungeng lebih mulia dan berguna bagi anda serta orang sekitar. Memang ada istilah Matteddung dan Maggellang tapi itu akan kembali lagi ke perangai masing-masing. Manusia pun akan dipanggil setan kalau kelakuannya buruk bukan?  Cukup perbaiki diri dan sikap... Setang! Ups maksud saya Sayang.

#SebulanNgeblog

Catatan kaki:
  • [1] Akkarungeng = Kebangsawanan.
  • [2]Pepatah - "Iyapa namate fata'e, matepi dua tellu tau massolla-sollae" artinya: Hanya boleh meninggal seorang yang baik jika sudah mati dua sampai tiga seorang yang buruk akhlaknya.
  • [3]Arung = Keluarga Bangsawan/ Berdarah biru
  • [4]Arung Matasa’ (anak raja/ putera-puteri mahkota yang masak/ murni darahnya), yaitu ayah dan ibunya anak arung matasa’, baik yang berketurunan dari kerajaan Bone sendiri maupun yang berketurunan dari kerajaan-kerajaan lain yang dinilai sederajat/ setinggi dengan Bone, antara lain: Luwu, Gowa, Wajo, Soppeng, dan Sidenreng. (golongan ini disebut ANA'-PATTOLA, yang berhak penuh menggantikan raja)
  • [5]Ripasiala = Dinikahkan - Napuana'i = Memperanakkan (Orang tua dari)
  • [6]Baso = Gelar kebangsawanan untuk Arung Matasa laki-laki.  baco-baco = Lelaki biasa dari kalangan "Tau Samaa".
  • [7]Tau Samaa = Golongan orang yang dimerdekakan atas perbudakan/ Masyarakat biasa.
  • [8]Pake = Ilmu - sering dikonotasikan dengan hal mistik / gaib.
  • [9]Temmapasilaingeng = Tidak Membeda-bedakan.
  • Lokasi Ajang Bulu tidak disebutkan secara spesifik karena permintaan keluarga. Serta beberapa nama harus disamarkan.

52 komentar:

  1. iyee betul sekali itu banyak sekali suka mengaku mengaku. saya saja atta ku adeknya pettawampone tidak pernah ja nau umbarkan ki. geli rasanya ketika banyak pake gelar tapi tidak sesuai tingkah lakunya bikin malu saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe.. apaji saya kodong, teh gelas ja. :D

      Hapus
  2. mengapa keberadaan arung palakka di sulawesi utara tidak pernah disebutkan dalam sejarah bugis khususnya di wilayah selatan

    BalasHapus
  3. dan saYA ingin tahu siapa manusia yang pertama mengatakan jikalau arung palakka tidak memiliki keturunan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Arung Palakka itu banyak deng, tolong disebutkan Arung Palakka siapa yang mana dulu? kalau La tenri tatta Arung Palakka yang kita maksud memang tidak ada keturunan (Manang). banyak kok sumber yang menyebutkan dan memang tidak ada bukti adanya keturunan beliau

      Hapus
    2. bisa ka minta Nomor telvon, WA atau Pin BB ta deng, karna ada sedikit yg mau saya tanyakan hehe 😊😊

      Hapus
    3. ID line mo di, -> ilhamjayes

      Hapus
  4. yang matanya menyala dan rmabutnya berdiri kalau marah dan tiada satu bijipun manusia di muka bumi ini yang bisa mengalahkannya

    BalasHapus
  5. tadi jawab dulu pertanyaan saya siapa yang pertama mengatakannya bagaimana mungkin dia tidak memiliki keturunan sedangkan banyak sekali orang yang di luar wilayah sulawesi bagian selatan mengaku bahwa mereka keturunan arung palakka dan apakah sudah ditelusuri lontara lontara yang berada di luar sulawesi bagian selatan mengingat arung palakka pernah berada di pulau sumatera dan pulau jawa

    BalasHapus
  6. Nantipi diakhirat baru ketahuan semua siapa2 keturunan asli yg mana andi amporoji...yg penting gau'ta ri linoe

    BalasHapus
  7. Nantipi diakhirat baru ketahuan semua siapa2 keturunan asli yg mana andi amporoji...yg penting gau'ta ri linoe

    BalasHapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  11. Permisi tabe daeng saya cuma senang membaca sejarah kerjaan jadi setau saya yg perna saya baca Kalu yang anda maksud dari keturunan la tenri tata malampe e'gemmena arung palakkka petta to risompae tdk mempunyai keturunan walaupun sudah mempunyai istri jadi pewaris kerajaan dibone digantikan oleh keponakan anak dari adik perempuan la tenri tata arung palakka yang bernama la Patau Matanna Tikka adalah anak dari adik perempuan Petta To RisompaE yang bernama We Mappolo BombangE Da Ompo We Tenri Wale Maddanreng Palakka MatinroE ri Ajappasareng. Anak ini lahir dari perkawinannya dengan La PakokoE Toangkone TadampaliE Arung Timurung MaccommengE.dari keturunan la patau matanna tika inilah yang banyak menjadi mangkau dibone dan somba ri gowa serta datu di luwu.kalau nama arung palakka ada banyak cuma 1 yg bergelar arung palakka to risompae yaitu la tenri tata malampe e gemmena matiroe di bontoala.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iye betul sekali daeng, :)

      Hapus
  12. Assalamu alaikum perkenalkan saya dari kalimantan tepatnya daerah banjarmasin,menurut cerita leluhur kami ada darah bonenya garisnya peta waru bin peta tundrung daeng pallo matindro rampung gading binterri tappuliwakeng,bin peta matiwalle bin latemmasonggo to ampeweling dengan gelarnya sultan abdul razak jamaluddin,ada kah kira2 saudara yg tau nama2 yg saya sebutkan,kiranya bisa membantu karna saya ini no tlp saya 081348695555

    BalasHapus
  13. Payung dan bajunya masih ada sampai sekarang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Payung dan baju itu hanya istilah kak,

      Hapus
    2. Payung dan baju itu hanya istilah kak,

      Hapus
  14. silahkan ditelusuri sejarah kearifan lokal ini http://ceritarakyatsangihetalaudsitaro.blogspot.co.id/ dan ini A History of Modern Indonesia Since C.1200 oleh penulis Oleh M.C. Ricklefs agar perkataan saya yg di atas tidak menjadi fitnah bagimu dan bagiku jua

    BalasHapus
  15. Bang..saya cuma tau silsilah kakeknya Kakek saya bernama Andi baso..tp Kakek saya tidak Makai gelar Andi sampai ke saya..dan keturunan kami udah gak bisa bahasa Bugis..

    BalasHapus
    Balasan
    1. seharusnya ada lontara.nya kak.. setahu saya, setiap keluarga arung memiliki lontara. apalagi Baso. nda sembarang yang boleh menyemat Baso di nama kak.

      Hapus
  16. Assalamu'alaikum,
    Saudara adakah sejarah tentang beberapa perahu pinisi yv berisikan kerabat kerajaan bone yang pergi meninggalkan bone menuju kesultanan ternate saat setelah selesainya perang antara makassar dan bone?

    BalasHapus
  17. Hampir semua sejarawan mengatakan bahwa manurunge ri matajange ada lh raja bone yg pertama padahal bukan hanya saja mereka cuma bisa ungkap sampai disitu aja

    BalasHapus
  18. Saya mau tanya siapdiapa raja sebulum manurunge ri matajange kalau ada yg tau minta no tlpn gan saya mau belajar sama dia

    BalasHapus
  19. Coba ki baca semua buku sejarah bone dan pikir semua buku bilang manurunge ri matajange raja pertama sedangkan alur ceritanya sebulum manurunge darang org bone sdg mengenal kepemimpinan/raja berarti org bone sdh punya raja sebelumnya lalu rajanya hilang entah kemana dan kenapa yg akhirnya mereka mencari sosok seorang raja dan alhasil muncullah manurunge ri matajange

    BalasHapus
  20. Kalau ada yg tau jawannya siapa ini no saya 081250644007

    BalasHapus
  21. Kalau ada yg tau jawannya siapa ini no saya 081250644007

    BalasHapus
  22. Semua org percaya sama karya sastra i la galigo padahal coba kita pikir karya sastra itu tidak dikutahui siapa pembuatnya dan didalam isinya seakan2 masyarakat bugis menganut agama hindu budha sedangkan tdk ada tanda2 yg ditemukan kalau org bugis menganut agama hindu budha sebelum islam masuk org bugis menganut paham animisme bukan hindu budha

    BalasHapus
    Balasan
    1. sblumnya maaf, sepengetahuan saya.. Ilagaligo adalah manuskrip yang dikumpulkan dari berbagai sumber.. untuk lebih jelasnya I La Galigo kak syarifah boleh cari refensi mengenai Colliq Puji.

      Hapus
  23. Kerajaan bugis sama sekali tdk dipengaruhi agama hindu budha artinya karya sastra la galigo boleh kita katakan fiktif

    BalasHapus
  24. Na kalau kita pikir terus kenapa karya itu ada kemungkinan karya itu dibuat saat majapahit berkuasa dibuktikan dengan mahapati gajah mada menguasai nusantara antara abad 13-14 dan buku sastra la galigo di perkirakan sejarawan di buat di abad itu yg artinya menurut saya kemungkinan orang majapahit lh yg membuat karya itu berdasarkan keterangan org setempat yg berarti juga bahwa kerajaan bugis sdh ada sebelum kerajaan majapahit

    BalasHapus
  25. Mungkin itu saja yg bisa saya share nama saya yusuf asal bone lapri tinggal di kalimantan terimakasih tumpangannya buat share

    BalasHapus
  26. Kalau ada ahli sejarawan sulawesi yg mau berbincang ini no saya 081250644007

    BalasHapus
  27. Kita cari sama sejarah panjang kerajaan bugis saya juga masih cari ilmu

    BalasHapus
  28. Gak aneh, orang bugis memang suka merantau. Bapak sy berasal dari Bone, wafat di Bandung, leluhur sy yg dari Sumedang juga ada darah bugisnya. Beruntung sy sempat satu kali ke makam kakek di Bone yg bernama Andi Tanra Sulawetang Melle. Ternyata Melle itu nama Desa di daerah Bone. Hehehehe...., Terima kasih buat kakakku puang Baso, atas segala bantuannya tuk melihat makam kakek.

    BalasHapus
  29. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  30. Aslm.. tabe om saya mau bertanya tentang ada pitue bone... ada yang punya nama2 dalam 7 bagian itu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau ade pitue itu om diangkat berdasar 7 kesultanan terdekat dari pusat kerajaan Bone, seperti ponceng, tanete riattang dll

      Hapus
  31. Assalamualaikum. sy mo ikutan Nimbrung. Ibu saya Memiliki Ayah bernama Dato Sarbih kelahiran Tahun 1908 dan Kakeknya (ayahnya Ayah ibu) Bernama Dato H. Baso. Ibu saya pernah sedikit cerita klo kakeknya keturunan dari sultan Hasanudin. Nah kira2 silsilah mereka apakah benar ada garis keturunan sultan Hasanudin?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Btw saya Kelahiran saya dan org tua saya Lahir dan Besar di Jakarta, jd sudah tidak tau lagi asal usul uyut kami.

      Hapus
  32. Tabe, meloka makkutana, cedde. La sapadila di lemoape,iga tosi poana'i

    BalasHapus
    Balasan
    1. tabe maraja, de naku rapiri paddisengeng kasi.

      Hapus
  33. Si penulis klo boleh tau dpt referensi dr mana?koq a.baso bone yg bisa jd penerus kerajaan???begini bos msh banyak cucu langsung dr andinmappanyukki yg lebih berhak utk menyandang status raja.....hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iye betul, kebetulan saya juga bukan dapat referensi tertulis. pernah sekali waktu saya berkunjung ke museum la pawawoi dan bertemu alm. A. Mappasissi yang menurut cerita beliau juga keturunan langsung. dan menurut cerita yang sampai ke telinga saya beliau andi baso bone keturunan langsung dari alm a. mappasissi maka dari itu saya berani berpendapat bahwa a. baso bone adalah keturunan langsung raja bone. toh saya kira tidak sembarang orang yang bisa jadi pemegang tampuk kuasa di museum lapawawoi jika bukan ada darah baso.nya. sya kira begitu, mohon maaf jika ada kesalahan. dan jika ada bagaimana kiranya yang benar?

      Hapus
    2. Kerajaan bone mengankat raja belum tentu dari anak raja yang memerinta pada saat itu, bisa anak saudara atau anak famili lainnya contonya
      Bau mappanyukki itu bukan anak raja bone ko bisa diangkat jadi raja bone..

      Hapus
    3. betul skali, ada istilah arung matasa' yg secara sederhana bisa dikatakan tidak usah dipertanyakan akkarungengnya.. dan diantara arung matasa tadi ada yg namanya ana' pattola.. nah inimi yang menurut saya yang pantas menggantikan raja. ana' pattola jelas bukan harus anak raja yg memerintah saat itu.

      Hapus
  34. Yang mengatakan pertama kali beliau tidak memimiliki keturunan beliau sendiri yang mengatakan itu

    BalasHapus

Post a Comment