Deng Ile: Sebuah Kisah Tentang Kesurupan

Agustus 03, 2017

Sebuah Kisah Tentang Kesurupan


Memasuki tahun kedua saya menjalani sekolah menengah kejuruan dulu menjadi awal perkenalan saya dengan penyakit Kesurupan. Hampir setiap hari ada-ada saja mata pelajaran yang harus kosong tergantikan dengan Panorama Kesurupan massal maupun individual di kelas. Nda usahmi dibawa ke dokter, Nanre-anre ka sai kalo bisa sembuh! dengan logat Bone yang khas teman saya menganjurkan agar yang kesurupan diobati dikelas saja.

Waktu itu sekitar pertengahan 2009 dimana fenomena Kesurupan merebak bak jamur yang bertemu musim penghujan. Bukan hanya di Bone, Televisi nasional banyak menyembarkan berita-berita semacam dengan kasus kami disini.

Tak ada langkah tegas dari pihak sekolah menanggapi hal semacam ini. Kebanyakan dari kami memang menganggap peristiwa semacam ini adalah karena kuasa gaib yang tak bisa dilawan. Sayangnya, lama bersentuhan dengan hal semacam ini membuat saya sadar ada yang aneh.

Kembali ke beberapa bulan sebelum fenomena ini merebak, saya diajak seorang teman bermalam dirumahnya. Katanya, ada yang penting lo'. Sesampai disana sebungkus rokok Pall Mall ia keluarkan dari saku celana yang tergantung menghiasi dinding kamar dari kayu miliknya. Sudah meki merokok begini? Heran, kalau cuma untuk merokok kenapa saya harus datang? dilanjutkannya percakapan tadi dengan hal yang bikin saya bingung. Coba meki dulu, ingatki rasanya. Dengan mudah saya habiskan sebatang rokok ini, lalu ditambahnya. Ini lagi! cobaki. Wetss, Maksudnya? untuk rokok selanjutnya saya makin bingung karena sempat saya melihat mulutnya komat-kamit sambil menatap tajam rokok ini. Cobami dulu? bagemana rasanya. Selepas isapan pertama langsung saja saya tambah heran. Rasa rokok yang tiba-tiba berubah sesuai keinginan saya. Coba Sampoerna kataku, dan kuisap lagi benar sedikit mirip dengan rasanya. Ini cuma sedikit ilmu yang bakal kau dapat kalo masuk di perguruanku..lo'. What?? Perguruan?

Malam itu benar saya bermalam dan mengakui kehebatan ilmu-ilmu yang ia pamerkan, tapi tetap saja tak membuat saya tertarik ikut ajakannya. Beberapa waktu setelahnya kudengar banyak anak remaja seusia saya berbondong-bondong ikut perguruan ilmu bathin meski berbeda-beda tempatnya.

Tak lama setelah ramainya perguruan tadi merebaklah kasus kesurupan disekolah-sekolah. Langsung saja seorang teman dekat yang sudah khatam di perguruan bathin sejak lama menghubung-hubungkan hal ini. Maksud ta ceng? Tanyaku sambil menyebutkan kata "ceng" panggilan akrab kami. Mereka mau tes ilmu, jadi itu sekolah sengaja penunggunya dibuat marah nah kalo kesurupan yang obati dia mi. Jelas teman satu ini.

Karena tertarik akan hal tadi, saya coba mengambil perhatian teman yang suka mengobati orang kesurupan tadi, Sebut saja Mawar, bukan nama sebenarnya. Mawar betul mengajak saya kesekolah sorenya. berkeliling beberapa kali sambil ia mengibaskan tangan kekiri dan kekanan. saya yang dibelakang diam sambil bertanya-tanya dalam hati soal apa yang terjadi sekarang.

Besoknya benar, Kesurupan massal terjadi. Bahkan yang heboh tak ada yang bisa menenangkan salah satu perempuan yang sedang kesurupan. Saya dan Mawar yang sekelas sementara belajar kemudian tiba-tiba didatangi sesosok perempuan bak Zombie yang jalannya tak beraturan. Tangan dan kaki perempuan ini seolah berantai bola besi sampai sulit sakali mengatur langkahnya. Wajahnya tertutup rambut berantakan dan sesekali suara scream ala rocker menjadi nada sumbang dihela-hela nafasnya.

Sontak Mawar yang sadar akan hal tadi berdiri seketika, dikepalnya tangan sambil mulutnya dengan cepat melafalkan sesuatu yang tak jelas kemudian melakukan gerakan seperti kamehame. Tak ada kilatan cahaya seperti yang saya lihat di film Dragon Ball Z tapi sepertinya bekerja karena perempuan yang kesurupan tadi tiba-tiba terlempar beberapa meter kebelakang.

Lapangan siang itu disulap bak arena Gladiator romawi, dimana Mawar sebagai jagoan menyiksa seorang perempuan yang sedang dirasuki makhluk gaib. Guru yang tak bisa berbuat banyak hanya menjadi penonton. Sementara yang lainnya sibuk juga dengan yang kesurupan dikelas. Pertunjukan yang sangat mengagumkan tersaji begitu saja seolah-olah tidak dipersiapkan sebelumnya.

Padahal kemarin kita "Mappakereng". begitu mereka menyebutnya. Mappakereng bagi mereka semacam ritual memanas-manasi makhluk gaib disebuah lokasi dan hasilnya nanti bakal banyak gangguan dari makhluk tersebut. Saya yang sadar akan hal ini tak bisa berbuat banyak karena dalam hal ini saya juga merasa diuntungkan. Mayanlah kalau ada satu mata pelajaran yang kosong pikirku.

Biasanya kesurupan terjadi pas jam terakhir pelajaran, oleh Mawar dan teman-teman seperguruannya ditangani tidak lebih 10 menit /Pasien. Seolah kita melihat sebuah tim kesehatan yang solid dan penuh jiwa penolong tapi sebenarnya kelakuan psikopat ditunjukkan secara kasat mata.

Buat pelajaran, tidak usah jauh-jauh cari obat kalau ada kesurupan karena yang tahu mengobatinya masih beberapa meter dari anda. Cukup tawari satu persatu orang yang ada disana, seorang yang ekhmmm akan menjulurkan tangan kasih miliknya untuk mengobati si korban.

Apa untungnya? Entahlah. Mungkin mereka cuma ingin diakui. (Proof of Existence)

By: Seseorang yang teramat kesal melihat kelakuan temannya.


Saya tidak menuduh buruk kepada semua mereka yang mampu mengobati Kesurupan, Ini hanya kekesalan kepada seorang teman, kisah pribadi yang seharusnya bukan hanya saya yang mengetahuinya.

 #SebulanNgeblog

2 komentar:

  1. Keren Deng ceritanya, td habis baca trus share ke teman yang punya kisah sama dengan ceritanya Deng Ile, jd kronologinya begini Deng
    Teman W (TW), Guwe (W)
    W : *ceritain kisah diatas*
    TW : sy juga biasa di sekolahku, ada satu org kesurupan cewek, tdk ada bsa kasi keluarki, trus temanku yg sdh masuk perguruan maju, berdiri depannya trus kyk ada dia ambil dipunggunya krn na kasi ke punggunya ki tangannya kyk menggaruk trus na angkat sedikit bru blgki "nd mauko keluar ?" trus itu yang kesurupan lgsg takut trus blg iya keluar ma.

    Keren yah Deng dunnia yang kayak gitu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasi Makasi.. rajin2 berkunjung. :)

      Hapus

Post a Comment