Deng Ile: Aminkan Tuhan tak lupa Guru

November 25, 2013

Aminkan Tuhan tak lupa Guru

    25 november 2013 diperingati sebagai hari guru di indonesia, tak heran mengapa banyak guru yang berkumpul hari ini. yah.. biasanya upacara menjadi tanda penghargaan prestisius bagi seorang yang berjasa dalam ilmu pendidikan seperti guru. mungkin banyak yang mengenal guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, apalagi? guru adalah seorang penuntun terbaik. andaikan kita itu kambing guru itulah gembalanya. kemana guru berkata kesitulah kita memandang. guru..

saya banyak mendengar curhatan dari guru, bagaimana tidak kedua orang tua saya adalah seorang guru, ditambah saya dibesarkan dilingkungan guru, dari om, tante teman om dan tante kebanyakan dari mereka memilih menjadi guru dikampung. begitulah hampir setiap hari ada saja cerita haru, suka, duka yang dibawa pulang ke rumah.. tak jarang setiap sore ketika minum teh bersama keluarga cerita-cerita bginilah yang mejadi topik bahasan yang tak kunjung usai.

beberapa dari cerita ini termasuk bergesernya moralitas murid, kalo tidak salah sudah hampir 30 tahun ayah saya menjadi seorang guru. katanya dulu itu murid nda' begini, seperti sekarang.. dulu liat atap rumah guru saja itu murid sampai takut, tapi sekarang tak jarang murid sendiri yang panjat atap rumah guru itu sendiri (ini bentuk pengandaian). buset memang kalo didengar. saya selalu diajarkan dirumah untuk menghargai guru, sampai seorang guru pernah marah ke saya gara-gara saya panggil puang. "panggilan kebangsawanan bugis" tapi bagi saya nda jadi masalah. bagi saya mereka itu pantas dapat yang seperti itu.

lain lagi ketika guru dan pendidikannya dijadikan alat politik bagi para pengejar jabatan. iya, saya harus jujur bercerita kalau sekarang itu politik sudah masuk ke ranah pendidikan, bukan cuma sekarang sih dari dulu dan memang sudah sangat parah kalau menurut saya. tak jarang ada guru yang kena sanksi bukan karena kesalahanya tapi karena intimidasi kalangan atas, lalu apa? apa bisa guru berbuat banyak? tidak bisa.. siapa sih di kalangan atas? lalu ke siapa sih guru mengeluh?

saya punya cerita haru, yang jelas ini menjadi warna lain dari perjalanan hidup ibu saya sebagai seorang guru, awalnya begini..ayah saya seorang yang berteman dengan banyak orang, termasuk beberapa temannya adalah seorang petinggi di daerah kami. sebagai seorang guru kedua orang tua saya mengerti untuk tidak ikut dalam ranah politik terlalu jauh. namun logikanya ayah saya pastinya mendukung temannya untuk maju menjadi orang nomer 1 di daerah kami. tapi kondisi politik yang tak menguntungkan bagi kami, ayah dan ibu hanya seorang guru, atasannya adalah pihak lawan dari teman ayah saya yang juga maju di pertarungan ini. alhasil.. berbagai tekanan dari atas mulai dirasa dari banyak kalangan guru, dan pegawai negri lainya. tapi mau di apa. lagi-lagi inilah ketika jabatan dijadikan kekuatan. alhasil pertarungan politik usai diantara teman ayah saya dan atasannya. dan atasannya menjadi pihak yang meboyong kemenangan, namun tak cukup tekanan yang sempat ia berikan tadi malah pihak yang seharusnya di ayomi sebagai rakyat malah dipermainkan lagi. ratusan guru di mutasi ke daerah terpencil, ratusan kepala sekolah sekolah di non-job, dan lebih banyak lagi aparatur negara dipecat dan dipindah tugaskan. termasuk salah satu didalamnya adalah ibu saya. aneh.. dalihnya kerena kurangnya efektifitas dari pegawai lama maka harus di pindahkan? lebih aneh, jika ingin di tinjau kembali ibu saya termasuk banyak menyumbangkan prestasi untuk sekolah, ibu saya kepala sekolah waktu itu, sekolahnya pun termasuk daerah terpencil, butuh jalan kaki sekitar 2 jam untuk bisa sampai, meski kendaraan bisa masuk tapi medan jalannya yang berbahaya mengharuskan ibu memilih jalan kaki dari pada pakai kendaraan. aneh, ngenes, nyesek, apalah..campur aduk bukan cuma dirasa oleh ibu tapi seluruh keluarga. hanya karena ayah saya berteman dengan lawan politik si pemenang justru ibu kena sanksi yang tidak wajar didapatkan.
  
sampai akhirnya saya memutuskan untuk tidak menjadi guru, seperti kebanyakan orang. saya lebih memilih kuliah bukan di pendidikan keguruan, bagi saya guru nda harus mengajar di sekolah. yang penting menurut saya itu jiwa untuk memperbaiki bangsa yang harus dimiliki, begitu yang ayah ibu saya ajarkan. tapi biar bagaimana pun saya tetap bangga ke ibu, ayah, dan semua guru-guruku. meskipun guru mulai dilupakan oleh kalangan atas, tak lagi dipandang sebagai pahlawan tapi malah di permainkan bak bola pingpong, yahh.. semoga kehidupan guru semakin menjadi baik dari hari ke hari..itu saja sih doaku.
   
selamat hari guru buat guru-guru baik yang berkehidupan layak di kampung, kota, maupun yang di daerah terpencil. jika yang diatas lupa guru semoga yang lebih diatas dan yang paling diatas tak lupa guru...amin.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post a Comment