Deng Ile: May Day - Kaum Kaum

Mei 13, 2013

May Day - Kaum Kaum

Siapa yang tahu sejarahnya sampai setiap mei akhir-akhir ini selalu dimulai dengan kata May Day, pernah saya mendengar May Day adalah adalah panggilan darurat dari kapal yang hampir tenggelam di film.. tapi entahlah apa sebenarnya dibalik kata mayday, jika ingin di artikan hanyalah May = mei, bulan kelima dan Day = hari. Jadi May Day = hari pada bulan kelima..hahaha
Kemudian MayDay di Indonesia menjadi sebutan hari buruh, kaum yang selama ini menjadi satu bagian yang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Negara ini. Seiring berkembangnya Negara tercinta ini apakah kaum ini sudah mendapati kehidupan yang layak dan sejahtera..?? kata mereka belum, belum mereka dapati apa yang mereka suarai tahun tahun sebelumnya dan hari ini hari dimana buruh diperingati menjadi saksi ribuan buruh tumpah ruah kejalan. Media-media kemudian ikut turun kejalan bukan berarti mereka sama seperti buruh yang membawa beban tuntutan tapi mereka ingin seluruh Negara menyaksikan dan sejenak merasakan gejolak kaum yang kurang diperhatikan. NAIKAN UMR DAN CABUT OUTSOURCING..!!! begitulah sesekali terdengar di Tivi, inilah bukti keresahan dari kaum tertindas. HENTIKAN KERESAHAN MEREKA!
Mayday kemudian berakhir lalu menyisakan pekerjaan rumah baru bagi kaum lainnya, sebuah kaum yang diselimuti kehangatan rumah dinas, kendaraan dinas, gaji cukup dengan kehidupan berbingkai politik seolah inilah kehidupan surgawi, mereka yang atas nama rakyat hadir dan meyuarakan penderitaan rakyat tapi ada juga yang hanya mengejar nama atas nama rakyat lalu lupa siapa rakyat hingga hilang dibenak mereka soal rakyat. Mereka si kaum pelupa kudoakan kepada tuhanku “yaa allah ingatkan mereka pada kaum yang tak senasib dengan mereka” wajarlah mereka lupa, negeri ini punya segudang masalah untuk di carikan solusi lalu saya kembali ingin berdoa “yaa allah semoga mereka tak lari dari tanggung jawab untuk mencarikan solusi bagi kaum yang yak senasib dengan mereka..amin” hari ini 13 mei 2013 semoga malaikatmu mengamini ku..
Baru beberapa hari selesai kubaca sebuah buku yang katanya Mahasiswa tak lagi memikirkan rakyat. Dulu banyak kaum yang tertolong oleh mereka si kaum demonstran, kaum aktivis kampus penyuara penderitaan kaum yang sungkan untuk menyeru. Apakah mereka sudah lupa cara mengeluh? Itulah mungkin yang dipikirkan banyak orang.  Tapi banyak juga yang tidak menyukainya, katanya mereka kaum tak bermoral dan anarkis lalu mereka berdalih Indonesia tak butuh kaum perusak! Dilema, inilah yang mungkin meyelinap dikepala orang tua yang sedang giat membiayai anaknya dibangku kuliah kemudian mengajarkan anaknya untuk acuh pada dunia “belajarlah saja nak, tak perlu lah demo-demo itu jadi kegiatan, bikin susah banyak orang saja” itulah kata orang tua kepada anak mahasiswanya. Benarkah ada upaya blockade peningkatan jumlah kaum demonstran atau memang tak lagi dibutuhkan mereka ini? Lalu kaum yang bagaimana yang negeri ini butuhkan?
Ketika banyak kaum yang berjalan diatas hidupnya lalu kamu kaum yang berjalan dimana? Kaummu apa? Dan pertanyaan terakhir, sudahkah kalian berpikir apakah kamu sudah bermanfaat untuk kaummu sendiri dan kaum-kaum lainnya? Karena sesungguhnya tak ada hidup yang lebih mulia selain hidup menjadi orang yang bermanfaat bagi sesamanya.
Pernah kudengar sebuah kisah seorang kakek yang tak lagi mampu bergerak, hidupnya kini hanya diatas ranjang usang dan hidupnya kini hanya dia gantungkan pada seorang nenek renta yang juga kewalahan mengurusi dirinya sendiri.. kekek itu, dia dulunya seorang remaja yang penuh semangat, hampir setiap hidupnya dia dedikasikan untuk perubahan orang-orang, dia adalah pemuda yang bercita cita ingin merubah dunia. Dia masuk ke sebuah perguruan tinggi yang cukup terkenal disebuah kota lalu mulai belajar dan menjadi seorang demonstran. Hampir setiap demo ia ikuti, ikut bersuara, ikut melawan, demi perubahan rakyat. Dan mulai hari itu perjuangannya pun di mulai.! Hari demi hari dia isi untuk memotivasi orang banyak, namun tak dia dapati dunia berubah seperti yang ia harapkan. Lalu ia kembali berpikir “mungkin aku tak harus merubah dunia. Cukup negeri ku saja, dengan itu akan banyak negeri yang mengikutinya” kemudian ia kembali pasang badan. Waktu pun berjalan tak terbendung kini kuliahnya sudah hampir selesai ia sibuk total. Hampir seluruh harinya habis dengan bergelut skripsi dan lain-lainya. Ditengah kesibukannya ia sempatkan untuk menghayalkan hidupnya dan cita-citanya, ternyata tak ada yang berubah di negerinya lalu ia kembali menyusun strategi hidup “dia tak harus merubah Negri ini, cukup kota ini saja.!” Pikirnya. Selesai kuliahnya ia bekerja di sebuah instansi pemerintahan. Disini ia mendapati dunia baru yang menurutnya tepat untuk melanjutkan perjuangannya. Waktunya banyak dihabiskan untuk membuat baik orang lain sampai akhirnya ia pension dari pekerjaannya karena umurnya sudah tak bersahabat dengan pekerjaannya. Kemudian ia hidup sebagai orang tua yang kesepian, hanya seorang istri dan anak. Tak ia dapati apa yang ia cita-citakan, semua yang ia kerjakan meninggalkannya dimasa ini. Ditambah lagi sakit-sakitan karena umur yang sudah uzur sampai akhirnya ditengah sakitnya yang makin parah ia kembali menghayal “hampir sebagian hidupku habis untuk memperbaiki moral orang banyak, ku motivasi mereka supaya tidak menyerah ku kobarkan api semangat dalam jiwa orang lain tapi tak kunjung kudapati dunia yang lebih baik, moral semakin memburuk dan dunnia seolah kehilangan jiwa semangat seperti kobaran api” lalu hanya penyesalan dalam hidup ini “kenapa aku lupa merubah diriku sendiri. Kenapa orang lain yang ingn kubuat lebih baik sementara aku lupa hidupku belum bisa diteladani banyak orang” hanya penyesalan dikepala kakek tua renta ini. Tak ada yang bisa ia perbuat.. ia hanya bisa berkelana dalam ruang imajinasi dengan membawa satu kalimat sesal “seandainya aku rubah diriku sendiri mungkin orang disekitarku bisa berubah juga tanpa kuhabiskan waktu untuk merubah mereka” dunia yang kucita-citak tak bisa ku dapati..sesal kini mengerogotiku..seandainya aku punya waktu ingin kuceritakan kisah kelam ini kepada anak muda semoga bisa menjadi hikmah..
Lalu kubaca sebuah quotes seorang penulis, katanya.. “hidup itu bukan hanya mengambil keputusan tapi bagaimana menjalani apa yang telah dipilih” bermanfaatlah lalu mati sampai orang yang kautinggalkan menyesalkan tuhan atas kematianmu lalu berdoa dan mendesak tuhan agar memberimu tempat terbaik yang telah ia janjikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post a Comment