Deng Ile: Lumut Fantasi

Mei 23, 2013

Lumut Fantasi

Siapa yang tak kenal lumut, tumbuhan merambat ditempat lembab. Tak sedikit orang yang tak suka dengan jenis tumbuhan satu ini, jelas saja lumut biasanya hanya menjadi tumbuhan pengotor dinding-dinding rumah, dinding kolam, dan dinding-dinding lainya termasuk facebook mungkin?..hehe, meski jaya di dinding bukan berarti lumut bisa seenaknya menguasai dinding. Bagaimanapun ada cicak yang tetap menjadi sosok besar dibalik kata dinding, coba saja Tanya anak kecil sampai orang dewasa “mahluk apa yang nongkrongnya didinding?” bisa dipastikan mereka akan langsung berpikir kearah sesosok hewan berekor berkaki empat mirip kadal tapi bukan kadal mirip spiderman tapi bukan laba-laba, makannya nyamuk dan sudah pasti pup-nya tetap hitam putih mirip kostum mahasiswa baru. Lalu jika lumut hanya bisa jadi pengotor bahkan tak mampu manjadi besar lalu apanya yang menarik?


Arogansi Lumut


Pernah kudengar seorang yang sesekali kehutan hanya untuk menemui lumut, iya lumut yang membuatnya terbangun setelah perjalannya yang melelahkan. Dulunya ia hanya melewati sang lumut tanpa peduli siapa lumut.. ditengah hutan ia punya tempat indah, sebuah pohon besar yang enggan ditumbuhi lumut. Timur dan baratnya bersih, rantingnya menjulur menjauhi pohon membuat sekitarnya teduh damai, daunnya hijau muda sampai urat daunnya terlihat, begitu indah sampai memenuhi bagian atasnya, selain itu rumput hijau disekitar pohon menambah kesempurnaan citra pohon satu ini. Namun begitupun waktu membuatnya berubah seperti anak kecil yang mulai kenal pacaran dan orang dewasa yang tak lagi minat untuk keluar rumah dimalam hari, pohon tua ini mulai rapuh, mulai rapuh ditumbuhi lumut sampai setengahnya, waktu terus bergerak dan pohon yang baru saja saya gambarkan telah hilang begitu saja, hanya ada pohon besar dipenuhi lumut. Hanya sebuah lumut ? iya lumut.. ia merenggut sedikit atau banyak kebahagiaan lelaki tadi. Hanya lumut.


Percakapan dengan sang lumut

Dia lelaki yang sering berkunjung akhirnya menyempatkan diri kembali mengunjungi pohon indahnya, namun dia dapati sebuah pohon yang sekarat minta ampun, lelaki pencari keindahan ini pun bersedih. Sesekali ia berbicara, bertanya pada sang lumut.  “tidakkah kau tahu ini pohon yang indah?” tapi tetap saja sang lumut tetap menolak untuk menjawab. Seolah ditelinganya terpasang headset megasound yang aliran suara music mengalir melalui rongga-rongga telinga sehingga tak sedikitpun guman yang bisa ia dengar dari lelaki tadi. Namun dibalik arogansi lumut tadi seolah mewakilkan sebuah suara keras tentang keadilan! Ia hidup. Semua ingin hidup.! Lalu lelaki tadi dengan lantang berkata “tapi kenapa dipohon ini? Ini pohon yang indah,” ia mengulang kata yang tadi lalu melanjutkan.. “tidakkah disana banyak pohon lain yang bisa kau tinggali? Bukan disini!” haha.. sang lumut tertawa, lalu berkata.. “lalu apa bedanya kau dan aku?” membuata lelaki tadi mulai berpikir dan terbawa bersama imaginasi kehidupan.

 
Perdamaian

Si angkuh mulai melihat si angkuh yang lainnya. Sang lumut kini menguasai pikiran anak muda ini, Menjangkau setiap sudut-sudut pemikiran, lalu menghempaskan anak muda ini ke dalam lubang penuh keresahan akan hidup. Masih dalam pikiran anak muda ini sang lumut mulai berkisah tentang seorang anak muda yang tanpa arah hidup, tak pernah menyempatkan diri untuk memikirkan kenapa ia ada di dunia ini, untuk apa ia hidup, lalu dimana, dan dengan apa dan siapa dia seharusnya hidup, lalu jika akan mati kenapa ia harus berusaha mencari jawaban dari pertanyaannya?  Sesekali lelaki ini berusaha untuk bertanya kepada sang lumut. Tentang hidup..! namun apakah dijawab? Kurasa tidak, bahkan lumut tak punya jawaban untuk anak muda ini, ia hanya membuat persamaan kehidupan. Dirinya dan anak muda.
 
Pengkhianatan

Sekarang hanya tinggal seorang anak manusia resah dan lumut di dunia ini. Lalu apa? Ditengah keresahan dan harapan lelaki ini ia duduk diantara akar-akar pohon tadi sembari berpikir dan tangannya mencabuti beberapa lumut disekitar tempatnya bersandar. “Betapa rapuh akar lumut, daunnya hanya menghijau tanpa batang pohon sekekar pohon tempat tumbuhnya, tapi dia bisa hidup mengalahkan sepohon kayu kekar. Menutupi keindahan bahkan merenggut kebahagiaan orang sepertiku” itulah hidupnya, begitulah ia seharusnya menjalani hidupnya. Tapi tanpa ia sadari sebuah pembunuhan tragis terjadi begitu saja, lumut di genggamannya tak lagi akan tumbuh seperti dulu. Hanya lumut mati. Ia memang lumut mati yang setidaknya pernah membuat seorang anak lelaki mau untuk memikirkan kehidupan. Ia menyampaikan pesan sampai akhir hayat. Begitulah lumut mengkhianati manusia.
 
Sang guru

Baru kemarin ia berbicara dengan sang lumut tapi hari ini tidak lagi, Tak ada pelajaran hari ini. Hanya ada satu pesan.. segeralah pergi, pesan terakhir sang lumut saat perpisahannya dengan anak muda. Apa itu berarti? .. kalo tidak? bertanya lelaki tadi. Maka hanya akan ada seonggok daging yang akan membusuk lalu mengering dan hilang.. atau pergi lalu mencari jawaban.. jika sempat kembalilah kerumah.. jika tidak.. carilah rumahmu.. yang akan jadi rumahmu.. rumahlah yang akan membuatmu tahu betapa hidup itu berarti setelah dirumah. kata sang guru. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post a Comment