Deng Ile: Mahasiswa Rasa Kari

Maret 07, 2013

Mahasiswa Rasa Kari



kok bisa? yah beginilah mahasiswa rantau.hehe meski tidak semua tapi sudah jadi mayoritas mahasiswa rantau itu makanan pokoknya adalah mie instan. saya juga kurang paham kenapa ada huruf 'e' pada kata mie. lebih-lebih harus memahami kenapa mahasiswa lebih milih makan mi instan. karena itu terlalu private untuk dijelajahi. tapi saya akan share sedikit pengalaman saya tentang kenapa banyak mahasiswa beralih mengonsumsi mi instan dan melupakan makanan yang tidak instan. oke kita buang saja huruf E pada Mie.

Alasan nomer satu, seperti yang saya bilang tadi mi instan lebih instan dari pada makanan-makanan yang lain. namanya juga mi instan jadi yaa harus instan dong. kalo ga instan namanya makanan rempong kan yah? nahh

Alasan selanjutnya, mi instan lebih terjangkau. beda dengan makanan yang ribet lainnya. mi instan bisa didapat dikios-kios terdekat dengan harga jual yang tidak terlalu tinggi yaitu dengan kisaran 1500/bks. *harga bisa saja berbeda ditiap pulau.. ingat jauhnya pulau jawa dan pulau yang anda tinggali akan berbanding lurus dengan tinggi harga yang anda dapat.

selanjutnya, tersedia dalam banyak rasa, bentuk dan merek. rasa mi instan yang variatif membuat mi instan lebih mudah diterima disemua kalangan penikmat makanan. mulai dari rasa kari sampai rasa ekor pari semuanya komplit. contoh saja di Makassar ada rasa mi rasa coto Makassar dan mi nya 4 kali lebih murah dari pada coto aslinya. lanjut kemasalah bentuk, bentuk mi instan memang dulunya dianggap kurang inovatif karena cuma keriting panjang dan dari dulu begitu terus, tapi oleh mahasiswa dibuatlah lebih elok dengan manuver-manuver terbaru seperti.. telur goreng campur mie, tumis kangkung mix mie soto.dll

dan selalu ada diwaktu sempit. yah mahasiswa memang punya sedikit masalah dengan waktu, dimana ada waktu ketika perut lancar terisi dan ada waktu dimana perut tak sejalan dengan isi dompet. disinilah mi instan hadir sebagai varian makanan superhero dikalanngan mahasiswa. makanya banyak yang bermigrasi ke mi instan.

dan adapula alasan yang agak sedikit kurang objektif ketika mahasiswa sudah terlalu dikait-kaitkan kedekatannya dengan mie instan. seperti pangalaman saya waktu makan mi instan disatu warung tiba-tiba seorang bapak-bapak nanya kuliah dimana dek? sontak kaget kok bapak ini tau kalo saya mahasiswa.*dalamhati
tapi tanpa ditanya bapak ini langsung berkata dalam dialek makassarnya.

kah biasanya mahasiswa indomiji namakan.! 

ahaha  -saya tertawa kecil, benar juga kata bapak satu ini. dan saya lanjutkan bincang-bincangnya..
nahh, dari sinilah saya menarik kesimpulan banyak mahasiswa yang mau sekali dibilangi mahasiswa akhirnya mengambil jalan pintas dengan pamer makanan pokok dengan mi instan jadi objeknya. padahal banyak pula mahasiswa yang sebenarnya ingin keluar dari jeratan mi instan. siapa juga mau dijuluki mahasiswa rasa kari, toh dalam dunia kerja saya pikir tidak bakal ada pertanyaan 

"rasa apa anda sewaktu mahasiswa?''

tidak mungkin juga anda jawab

"rasa kari, pak?" ini yang bego siapa pak?

oke..
itu sedikit alasan-alasan yang saya tahu kenapa mahasiswa beralih menjadi konsumen makanan instan yang sebut-sebut punya efek jelek jangka panjang. tapi itu kemlbali lagi kepada pribadi masing-masing.. ini hanya ulasan singkat yang boleh diperhatikan boleh juga tidak. lagian tulisan ini juga banyak mengambil sample dari mahasiswa yang tidak bersama orang tuanya alias merantau.
jadi kasus bisa saja berbeda pada tempat yang berbeda. dan saya sudah tidak tahu lagi mau bilang apa dan wassalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post a Comment